You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Sidomojo
Sidomojo

Kec. Krian, Kab. Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur

Ruwah Desa Sidomojo 2026: Merawat Tradisi Leluhur, Mempererat Kerukunan, dan Melestarikan Budaya Jawa

Operator 14 Februari 2026 Dibaca 11 Kali
Ruwah Desa Sidomojo 2026: Merawat Tradisi Leluhur, Mempererat Kerukunan, dan Melestarikan Budaya Jawa

SIDOMOJO – Pemerintah Desa Sidomojo menyelenggarakan rangkaian kegiatan Ruwah Desa Tahun 2026 pada Sabtu, 14 Februari 2026. Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga dini hari ini menjadi momentum untuk melestarikan tradisi leluhur, memanjatkan doa, mengungkapkan rasa syukur, serta mempererat kebersamaan seluruh elemen masyarakat Desa Sidomojo.

Rangkaian kegiatan Ruwah Desa tahun ini diisi dengan tasyakuran dan doa bersama, Khotmil Qur’an, pembacaan tahlil, syukuran tumpengan, prosesi adat ruwah, hingga pagelaran kesenian Campursari, Tari Remu, dan Wayang Kulit. Seluruh rangkaian tersebut mencerminkan kekayaan tradisi masyarakat yang terus dijaga sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya desa.

Mengawali Ruwah Desa dengan Doa dan Rasa Syukur

Kegiatan pagi diawali dengan Khotmil Qur’an yang dilaksanakan oleh pengurus beserta anggota PKK dan Posyandu Desa Sidomojo. Kegiatan berlangsung mulai pukul 06.00 WIB hingga 11.30 WIB sebagai bagian dari rangkaian tasyakuran dan doa bersama.

Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan pembacaan tahlil yang ditujukan kepada para sesepuh dan leluhur desa. Suasana khidmat dan penuh kekeluargaan mewarnai kegiatan tersebut, yang menjadi wujud penghormatan kepada para pendahulu sekaligus ungkapan rasa syukur masyarakat.

Kebersamaan semakin terasa melalui syukuran tumpengan yang dibawa oleh warga. Beragam sajian berupa nasi tumpeng lengkap dengan sayur dan lauk pauk turut meramaikan kegiatan. Selain itu, terdapat tiga anjungan gunungan tumpeng berisi aneka buah dan sayuran yang berasal dari Dusun Mojokemuning, Dusun Tundungan, dan Dusun Luwung.

Sebanyak 173 orang menghadiri kegiatan tasyakuran dan doa bersama ini. Kehadiran Pemerintah Desa Sidomojo, BPD, RT, RW, LPMD, Posyandu, PKK, Karang Taruna, BUMDes, tokoh masyarakat, serta warga desa menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan dalam menjaga tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Prosesi Adat Ruwah, Wujud Pelestarian Warisan Leluhur

Memasuki sore hari, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan prosesi adat ruwah melalui pementasan wayang oleh cantrik atau murid dalang. Pertunjukan ini berlangsung mulai pukul 15.00 WIB hingga 17.00 WIB.

Prosesi tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian Ruwah Desa Sidomojo. Selain menjaga kesinambungan tradisi, keterlibatan generasi penerus dalam pementasan wayang juga menjadi bagian dari upaya mengenalkan seni budaya kepada masyarakat.

Tradisi Ruwah Desa tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan bagi warga untuk memperkuat hubungan sosial, menghormati sejarah desa, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap warisan budaya setempat.

Malam Ruwah Desa Semarak dengan Campursari, Tari Remu, dan Wayang Kulit

Semarak Ruwah Desa Sidomojo berlanjut pada malam hari melalui pagelaran seni dan budaya. Kegiatan diawali dengan pertunjukan Campursari pada pukul 19.00 WIB hingga 22.00 WIB, yang kemudian dilanjutkan dengan pagelaran Tari Remu mulai pukul 22.00 WIB sampai 23.00 WIB.

Puncak acara malam Ruwah Desa ditandai dengan pagelaran Wayang Kulit oleh dalang Ki Teguh Sutrisno, membawakan lakon Semar Mbangun Kayangan. Pertunjukan berlangsung mulai pukul 23.00 WIB hingga pukul 04.00 WIB.

Sebanyak 45 orang tamu tercatat menghadiri kegiatan pagelaran Campursari dan Wayang Kulit tersebut. Pemerintah Desa Sidomojo bersama lembaga kemasyarakatan desa, BUMDes, tokoh masyarakat, dan warga turut hadir dalam rangkaian kegiatan yang menjadi wadah pelestarian kesenian tradisional.

Pagelaran ini tidak sekadar menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi sarana untuk mempertahankan eksistensi seni pertunjukan Jawa agar tetap dikenal dan diapresiasi oleh generasi berikutnya.

Memperkuat Gotong Royong dan Identitas Desa

Rangkaian Ruwah Desa Sidomojo Tahun 2026 memperlihatkan bahwa tradisi lokal memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat. Perpaduan kegiatan keagamaan, penghormatan kepada leluhur, kebersamaan warga, dan pertunjukan seni budaya menjadi gambaran kekayaan nilai yang hidup di tengah masyarakat desa.

Keterlibatan Pemerintah Desa Sidomojo bersama seluruh lembaga kemasyarakatan dan warga juga menunjukkan pentingnya partisipasi bersama dalam menjaga keberlangsungan tradisi. Semangat gotong royong yang tercermin melalui kegiatan tersebut menjadi modal sosial untuk memperkuat persatuan dan kerukunan masyarakat.

Melalui penyelenggaraan Ruwah Desa ini, tradisi leluhur diharapkan tetap lestari dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Sidomojo. Tidak hanya sebagai warisan masa lalu, Ruwah Desa juga menjadi pengingat bahwa kebersamaan, rasa syukur, penghormatan kepada pendahulu, dan kecintaan terhadap budaya merupakan nilai yang perlu terus dijaga.

Ruwah Desa Sidomojo 2026 menjadi bukti bahwa tradisi dan budaya akan tetap hidup selama masyarakat bersama-sama merawatnya. Dari doa dan tasyakuran hingga alunan Campursari dan pertunjukan Wayang Kulit, seluruh rangkaian kegiatan menyatukan nilai spiritual, kebersamaan, dan kecintaan terhadap warisan budaya desa.

APBDes 2026 Pelaksanaan

APBDes 2026 Pendapatan

APBDes 2026 Pembelanjaan